BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kebudayaan erat hubunganya
dengan masyarakat segala sesuatu yang terdapat didalam masyarakat ditentukan
oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri meskipun bentuk dan
caranya berbeda antara daerah satu dengan yang lainnya. Akan tetapi
perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan.
Budaya memiliki defisi
yang berbeda-beda akan tetapi semuanya memiliki prinsip yang sama yaitu
mengakui adanya ciptaan manusia sebenarnya segala kesesuaian yang diciptakan oleh
manusia dimuka bumi ini adalah budaya.
Indonesia merupakan
negara yang terdiri dari berbagai suku dan budaya. Dari keanekaragaman budaya
nusantara yang ada. Kebudayaan selalu menarik untuk dibahasdan dipelajari,
diantara salah satu daerah yang memiliki berbagai macam kebudayaan adalah kota
Probolinggo.
Dalam makalah ini tradisi
kebudayaan Probolinggo yang akan diangkat yaitu, perayaan Hari Raya
Kasada yang di dalamnya banyak mengandung nilai-nilai religius dan
sejarah. Di Probolinggo juga masih dapat ditemui satu suku dengan sosial
budaya khas, yaitu masyarakat Tngger yang hidup di kawasan Pegunungan Tengger .
Sistem sosial dan religi masyarakat
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana sejarah tradisi perayaan Hari Raya Kasada ?
2.
Bagaimana terdisi kebudayaan perayaan Hari Raya Kasada?
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui sejarah tradisi Kasada
2.
Mengetahui kebudayaan tradisi perayaan kasada
BAB II
Kota Probolinggo mempunyai tradisi yaitu Upacara Kasada.Upacara ini diadakan
pada saat purnama bulan Kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini disebut
juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya
Kasada, diadakan berbagai tontonan seperti; tari-tarian, balapan kuda di lautan
pasir, jalan santai, pameran. Sekitar pukul 05.00 pendeta dari masing-masing
desa, serta masyarakat Tengger mendaki Gn.Bromo untuk melempar
Kurban (Sesaji) ke Kawah Gn.Bromo. Setelah pendeta melempar Ongkeknya (tempat
sesaji) baru diikuti oleh masyarakat lainnya.
Disamping
pemandangan alam yang indah Gn.Bromo juga memiliki daya tarik yang luar biasa
karena tradisi masyarakat tengger yang tetap berpegang teguh pada adat istiadat
dan budaya yang menjadi pedoman hidupnya. Upacara Kasada terkenal hingga manca
negara dan selalu ramai di hadiri turis luar negeri maupun lokal.
Suku Tengger berjumlah sekitar
40 ribu (1985) tinggal di lereng G.Semeru dan di sekitar kaldera Tengger.
Mereka sangat dihormati karena mereka hidup jujur, tidak iri hati, dan tidak
suka bertengkar. Masyarakat Tengger adalah keturunan Roro Anteng (putri raja
Majapahit) dan Joko Seger (putera seorang brahmana).More…Mereka sangat menjunjung
tinggi persamaan, demokrasi, dan kehidupan bermasyarakat. Bahasa daerah yang
digunakan Masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Jawa
Tengger, yakni bahasa Jawa Kuno. Mereka tidak menggunakan tingkatan bahasa,
berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai pada umumnya memiliki beberapa
tingkatan.
2.1.
Seni Dan Tradisi kebudayaan masyarakat Tengger
Tengger dikenal sebagai tanah
hila-hila (suci) sejak jaman Majapahit, para penghuninya dianggap sebagai abdi
dibidang keagamaan dari Sang Hyang Widi Wasa. Hingga kini Masyarakat masih
mewarisi tradisi Hindu sejak jaman kejayaan Majapahit. Agama Hindu di Bali dan
di Tengger pada dasarnya sama yaitu Hindu Dharma, tetapi Masyarakat Tengger
tidak mengenal kasta, dan masih menganut tradisi yang pernah berkembang pada
jaman Majapahit.
Tidak seperti halnya
masyarakat Hindu di Bali, Masyarakat Tengger tidak memiliki Istana, pustaka,
maupun kekayaan seni-budaya tradisional, meski memiliki beberapa obyek penting semacam
lonceng perunggu dan sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang telah
menjadi puing. Namun demikian mereka kaya akan kepercayaan dan upacara adat,
diantaranya ialah:
Orang Tengger kaya akan
upacara adat tetapi hampir tidak memiliki produk kesenian. Upacara adat yang
sampai saat ini masih diselenggarakan di wilayah Tengger adalah sebagai
berikut.
Perayaan Kasada atau hari raya Kasada atau Kasodoan yang sekarang disebut Yadnya Kasada, adalah hari raya kurban orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14, 15, atau 16, bulan Kasada, yakni pada saat bulan purnama sedang menampakkan wajahnya di lazuardi biru. Hari raya kurban ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra bungsu Rara Anteng dan Jaka Seger, yang telah merelakan dirinya menjadi kurban demi kesejahteraan ayah, ibu, serta para saudaranya. Kasodoan merupakan sarana komunikasi antara orang Tengger dengan Hyang Widi Wasa dan roh-roh halus yang menjaga Tengger. Komunikasi itu dilakukan melalui dukun Tengger, pewaris aktif tradisi Tengger.Kepergian dukun Tengger ke Bromo bukan hanya untuk berdoa, melainkan juga untuk minta berkah kepada yang menjaga Gunung Bromo. Permintaan itu ditujukan kepada Sang Dewa Kusuma yang dikurbankan (dilabuh) di Kawah Bromo. Selain meminta sesuatu, dukun Tengger juga memberi sesuatu, yaitu melaksanakan amanat Raden Kusuma yang diucapkan pada masa lalu yang berbunyi sebagaiberikut:
“Dulurku sing isih urip ana ngalam donya, ngalam padang, mbesuk aku saben wulan Kasada kirimana barang samubarang sing ana rupa tuwuh, rupa sandhang pangan, saanane sandhang pangan sing rika pangan ana ngalam donya, weruh rasane, apa sing rika suwun mesti keturutan kekarepane rika, ya keturutan panjaluke rika ya mesti kinabulna.” (“Saudara-saudaraku yang masih hidup di dunia, di alam terang, kelak setiap bulan Kasada, kirimkan kepadaku hasil pertanianmu, dan makanan yang kalian makan di dunia, agar aku dapat merasakannya. Keinginanmu dan permintaanmu pasti kukabulkan”).
Perayaan Kasada atau hari raya Kasada atau Kasodoan yang sekarang disebut Yadnya Kasada, adalah hari raya kurban orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14, 15, atau 16, bulan Kasada, yakni pada saat bulan purnama sedang menampakkan wajahnya di lazuardi biru. Hari raya kurban ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra bungsu Rara Anteng dan Jaka Seger, yang telah merelakan dirinya menjadi kurban demi kesejahteraan ayah, ibu, serta para saudaranya. Kasodoan merupakan sarana komunikasi antara orang Tengger dengan Hyang Widi Wasa dan roh-roh halus yang menjaga Tengger. Komunikasi itu dilakukan melalui dukun Tengger, pewaris aktif tradisi Tengger.Kepergian dukun Tengger ke Bromo bukan hanya untuk berdoa, melainkan juga untuk minta berkah kepada yang menjaga Gunung Bromo. Permintaan itu ditujukan kepada Sang Dewa Kusuma yang dikurbankan (dilabuh) di Kawah Bromo. Selain meminta sesuatu, dukun Tengger juga memberi sesuatu, yaitu melaksanakan amanat Raden Kusuma yang diucapkan pada masa lalu yang berbunyi sebagaiberikut:
“Dulurku sing isih urip ana ngalam donya, ngalam padang, mbesuk aku saben wulan Kasada kirimana barang samubarang sing ana rupa tuwuh, rupa sandhang pangan, saanane sandhang pangan sing rika pangan ana ngalam donya, weruh rasane, apa sing rika suwun mesti keturutan kekarepane rika, ya keturutan panjaluke rika ya mesti kinabulna.” (“Saudara-saudaraku yang masih hidup di dunia, di alam terang, kelak setiap bulan Kasada, kirimkan kepadaku hasil pertanianmu, dan makanan yang kalian makan di dunia, agar aku dapat merasakannya. Keinginanmu dan permintaanmu pasti kukabulkan”).
2.2.Sejarah
Tradisi Perayaan Kasada
Dikisahkan, konon ada sepasang
suami-isteri bernama Jaka Seger dan Raya Anteng, yang disatukan dari identitas
dan status sosial yang berbeda. Jaka Seger adalah seorang pemuda dari Tengger,
sedangkan Rara Anteng adalah salah satu kerabat dari Keraton Majapahit.
Setelah beberapa tahun usia
perkawinan, keduanya tidak kunjung dikaruniai keturunan. Keduanya lalu
bersemadi dan memohon agar segera diberikan keturunan, disertai ikrar kepada
roh penjaga Gunung Bromo bila doanya terkabul akan melakukan pengorbanan.
Permohonan tersebut ternyata dikabulkan, bahkan mereka dikaruniai keturunan
berjumlah dua puluh lima orang. Untuk memenuhi janjinya, sepasang suami-istri itupun
menyerahkan anam bungsunya bernama Dewa Kusuma untuk dikorbankan kepada roh
Gunung Bromo.
Sepenggal kisah inilah yang
menjadi asal-usul ritual Kasada, dan diperingati setiap tahun oleh komunitas
Tengger (yang berarti pula anak cucu Rara Anteng dan Jaka Seger). Tidak lain
tidak bukan, ritual ini diperuntukkan untuk mengenang pengorbanan yang
dilakukan oleh Dewa Kusuma. Cerita mengenai Rara Anteng dan Jaka Seger dalam
ritual Kasada biasanya disampaikan menjelang puncak perayaan Kasada, berupa
larung sesaji secara massal di kawah Gunung Bromo.
Dari kisah Rara Anteng dan
Jaka Seger inilah keseluruhan makna identitas Tengger selama ini
dikonstruksikan. Hefner misalnya, dengan merujuk sumber-sumber dan catatan
kolonial, menyatakan bahwa sebagian orang Tengger adalah orang-orang Majapahit
yang mencari perlindungan dari serangan kerajaan Islam Demak. Perjumpaan dua
“saudara” ini lalu dimaknai sebagai simbol pertemuan dua identitas yang
mengharapkan kesuburan, kemakmuran, dan keberlangsungan rantai generasi mereka.
Di kalangan dukun-dukun
Tengger sendiri, makna Kasada memiliki versinya sendiri, walau secara “resmi”
tidak menolak kisah Rara Anteng dan Jaka Seger. Menurut Mujono (Dukun Ngadas {lor}, Kecamatan Sukapura, Kabupaten
Probolinggo), ritual Kasada menyiratkan banyak makna di antaranya untuk
mengingat pengorbanan leluhur, dan persembahan terhadap Yang Maha Kuasa guna
memperoleh berkah kesuburan dan perlindungan.
Namun demikian selain cerita
legenda yang sebenarnya banyak memuat versi tersebut, ritual Kasada secara
sosiologis sebenarnya juga menjadi momen perjumpaan. Sebab, melalui ritual
Kasada seluruh warga Tengger dari empat Kabupaten yang mengiris wilayah dataran
tinggi Tengger berkumpul bersama. Tepat tanggal 15 saat bulan purnama, warga
Tengger dari Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang menyatu dan melakukan
puja bakti di Poten yang terletak di pinggir kawah Bromo.
Rangkaian upacara yang
rumit dan dilakukan secara massal inilah yang sebenarnya membuat daya tarik
Kasada amat besar. Paduan antara keelokan Bromo dan keagungan tradisi wong
Tengger memendarkan keagungan yang mengundang rasa takjub semua orang.
Karena itu rasanya tidak
mengherankan, bila ritual Kasada juga dimaknai oleh berbagai pihak dengan cara
yang berbeda-beda. Proses modernisasi dan realitas ekonomi dan politik mutakhir
telah ikut meletakkan ritual Kasada dalam ruang baru dengan aneka makna dan
tafsir bagi para “penikmatnya”. Nasib tak dapat ditolak, dalam ruang yang baru
ini Kasada kini menjadi arena pertarungan berbagai kepentingan, dan perebutan
berbagai makna yang mengiringi kehidupan komunitas Tengger.
Pengorbanan Dewa Kusuma
sebagai representasi leluhur Tengger juga menandai proses pemujaan terhadap
arwah setiap leluhur Tengger yang telah meninggal. Biasanya pemujaan ini
dihelat melalui ritual entas-entas, atau mengentaskan arwah leluhur yang telah
meninggal agar memperoleh alam surgawi. Sementara Kasada lebih menekankan pada
pengentasan arwah leluhur mereka, yang diritualkan secara massal.
2.3.
Makna kasada
Bagi
warga Tengger Upacara Kasada atau Hari Raya Kasada atau Kasodoan adalah Upacara
yang dilakukan oleh Masyarakat Tengger untuk memperingati Pengorbanan diri
Raden Kusuma ( Hadi Kusuma ) putra ke 25 pasangan Joko Seger dan Loro Anteng,
yang telah merelakan dirinya untuk berkorban demi Kesejahteraan Ayah , Ibunya
serta saudara – saudaranya.
Dalam kepercayaan Hindu sekte Tengger,
Gunung Bromo adalah alat pemersatu dan berkah hidup yang senantiasa memberi
perlindungan dan kesejahteraan masyarakat Suku Tengger. Suburnya tanah
pertanian dan harmonisnya kehidupan di sini, paling tidak telah menjadi bukti
yang dipercaya mereka sebagai berkah dari roh para leluhur yang bersemayam di
kawah Gunung Bromo.Kuatnya keyakinan itulah yang membuat kawasan Gunung Bromo,
pada hari-hari biasa tetap saja ramai dikunjungi warga masyarakat baik yang
datang dari Suku Tengger sendiri maupun masyarakat luar. Mereka, umumnya datang
karena suatu hajat tertentu atau sekedar menunaikan nadzar pribadi dengan
mempersembahkan sesaji, berupa hasil pertanian seperti kubis, wortel, sawi,
kentang,dan binatang peliharaan seperti ayam, untuk dilemparkan ke kawah Gunung
Bromo.
Menurut tata cara adat Suku
Tengger, sebelum sesaji tersebut dibuang dan diperebutkan di kawah Bromo,
sesaji harus diberi mantera di Pure
Luhur Poten sesuai hajat orang bersangkutan. Baru kemudian
sesaji yang berupa hasil bumi dan peternakan dipersembahkan,dengan harapan,
semua keinginannya dapat dikabulkan oleh yang mbaurekso atau penguasa kawah
Gunung Bromo.
Tradisi seperti ini sudah
dilakukan masyarakat Tengger secara turun-turun, sejak ratusan tahun lalu, baik
tradisi upacara persembahan sesaji secara pribadi maupun upacara akbar yang
lebih kita kenal dengan nama Perayaan Yadnya Kasada. Sebuah ritual agama Hindu
yang dilaksanakan pada setiap bulan 12 menurut Tarikh Caka, penanggalan khusus
warga Tengger.
Hari Raya Kasada ini dilakukan
sebagai ungkapan syukur Suku Tengger terhadap sang pencipta, Yang Widi Wasa,
atas berkah dan rezeki yang diberikan. Juga penghormatan kepada nenek moyang
mereka, yakni Joko Seger dan Roro Anteng, yang rela mengorbankan putra
bungsunya demi kedamaian hidup anak keturunannya yang mendiami kawasan Gunung
Bromo.
Dalam semedinya mereka mendengar
suara gaib yang memberitahukan bahwa mereka akan diberi keturunan sebanyak 25
anak, dengan syarat, harus rela menyerahkan anak bungsunya yakni Dewa Kusuma
untuk dikorbankan pada bulan Kasada, bulan purnama 14 tepat putih wetan atau
subuh. Namun setelah hari yang dijanjikan, Dewa Kusuma yang sudah berusia 10
tahun, tidak juga dikorbankan oleh kedua orang tuanya, Joko Seger dan Roro
Anteng. Mereka tidak memenuhi janjinya. Rasa takut kehilangan anak, membuat
mereka membawa ke 25 anaknya diungsikan ke Gunung Pananjakan.
Sebagai wujud teguran dewata
terhadap kelalaian Joko Seger, Gunung Bromo diletuskan dan jilatan apinya
menyambar dan membawa pergi Dewa Kusuma ke dalam kawah Gunung Bromo. Melalui
suara gaibnya, Dewa Kusuma berpesan kepada seluruh saudaranya di sekitar Poten agar mereka hidup rukun dan
meminta warga Tengger menyerahkan sebagian hasil buminya kepadanya.
Sejak saat itulah bulan Kasada,
bulan ke 12 menurut penanggalan versi Tengger dijadikan sebagai hari raya
keagamaan Hindu Tengger, Yadnya Kasada, hari kurban yang sakral. Meskipun
Yadnya Kasada, bukan termasuk hari raya terbesar dalam tradisi Hindu Tengger,
namun mempunyai makna khusus dalam hidup mereka. Terutama ajarannya tentang
sikap rela berkorban dan menjaga keseimbangan hidup antar sesama manusia dan
juga dengan alam sekitarnya dipegang teguh secara turun-menurun oleh Suku
Tengger.
Karena itu, tiap-tiap kerusakan yang
timbul baik di masyarakat maupun alam sekitar oleh orang Tengger harus
dipandang sebagai pengingkaran terhadap ajaran tadi. Bahkan gejala alam,
seperti meletusnya Gunung Bromo yang memuntahkan debu vulkanik beberapa waktu
lalu, ditafsirkan oleh sebagian orang Hindu Tengger, sebagai pertanda kurdho atau murkanya penguasa
Bromo pada tahap paling dini. Sebab bagi mereka peningkatan aktivitas Bromo
tidak semata peristiwa alam biasa, namun juga mengandung pesan peringatan.
Mungkin akibat kelalaian prilaku atau karena berkurangnya sesaji yang
dipersembahkan oleh warga masyarakat Tengger ke kawah Gunung Bromo.
Menurut tata cara adat masyarakat
Tengger, setiap Hari Raya Kasada, tiap-tiap desa harus menyiapkan satu ongkek,
yang nantinya akan dibawa oleh dukun mereka ke Pure Luhur Poten. tapi jika dalam bulan Kasada di satu desa
terdapat musibah kematian, maka ongkek tidak bisa dibuat, karena kematian
dianggap sebagai peristiwa yang mengotori Perayaan Kasada.
Setelah
semua persiapan rampung, tepat tengah malam, umat Hindu Tengger mulai bergerak
dari Pendopo agung. Mereka berjalan kaki secara beriringan menuju ke Pure Luhur Poten yang jaraknya
sekitar 8 kilometer, mendaki kaki Gunung Bromo yang berpasir. Ribuan warga
Tengger ini, pria, wanita,tua, muda bahkan bocah kecil, berjalan sambil membawa
berbagai hasil bumi yang mereka tanam di ladang masing-masing untuk kemudian
dipersembahkan ke sang leluhur, Dewa Kusuma yang bersemayam di kawah Gunung
Bromo. Sebelum sampai di kawah, sesaji tersebut singgah dulu di Pure Luhur Poten untuk diberi
mantera keselamatan oleh para dukun. Kemudian dengan diterangi oncor dan obor,
dan diiringi gamelan Kepyak,
yang bergemerincing, dan tetabuhan Ketipung, para dukun dan warga Tengger
mendaki kawah dengan khidmat, kemudian secara bergantian melemparkan sesaji ke
kawah Gunung Bromo.
Namun apapun upacara Yadnya
Kasada yang rutin diselenggarakan masyarakat Tengger ini adalah cermin mereka
dalam menjaga keharmonisan hidup sehari-hari dengan alam, terutama dengan sang
pencipta, yang utuh mengatur alam dan manusianya. Harmoni kehidupan masyarakat
Suku Tengger di pegunungan dan kawasan perbukitan Gunung Bromo ini, setidaknya
secara kasat mata masih berlangsung. Namun ini bukan berarti tanpa ancaman.
Secara budaya, peradaban masyarakat Tengger
ini, telah lama terkepung oleh beragam budaya lain di luar Tengger. Terbilang
sulit untuk tidak bersentuhan sama sekali dengan perkembangan budaya global,
yang cenderung tidak berbatas. Kekhawatiran tradisi-tradisi ritual yang
berkaitan dengan alam dan kehidupan sosial orang Tenggerakan hilang, sudah lama
muncul. Secara geografis saja, desa-desa yang dulu dikenal sebagai Desa
Tengger, kini tidak lagi bisa dikatakan sebagai desa orang Tengger. Sejumlah
pendatang telah telah mendiami desa-desa ini. Padahal, berdasarkan kriteria
yang selama ini banyak dipakai untuk menggambarkan masyarakat Tengger, adalah
mereka yang beragama Hindu dan masih memegang teguh adat istiadat Tengger.
Terbukanya kawasan Tengger
sebagai obyek pariwisata, banyak disebut-sebut menjadi ancaman nyata buat
masyarakat Tengger, bila ingin mempertahankan peradagannya. Orang kota, atau
Orang Ngare, dalam
sebutan masyarakat setempat, atau orang yang hidup di dataran rendah, menurut
kepercayaan orang Tengger dianggap telah tercemar virus kapitalisme, yang
banyak menawarkan berbagai kesenangan.Pola hidup masyarakat agraris, masih
dipegang oleh sebagian masyarakat Tengger. Mereka masih mengolah lahan
pertaniannya dengan menanam berbagai jenis tanaman sayuran.
Namun, terbukanya kawasan Tengger
ini sebagai obyek pariwisata, akhirnya menawarkan pilihan lain buat masyarakat
Tengger. Tidak sedikit yang mengalihkan usahanya dengan menyewakan kendaraan
roda empatnya. Ataupun menyewakan kuda ternak mereka kepada para pelancong.
Atau merubah rumah kediamannya menjadi homestay,dengan omset yang cukup besar.
BAB
III
ANALISA
DAN KESIMPULAN
3.1.
Analisis
Masyarakat
Tengger masih menganut kepercayaart yang bersifat tradisional dengan melakukan
berbagai upacara, antara lain Kusada, Karo, Entas-entas, Unan-unan, perkawinan,
kematian, pendirian rumah, dan sebagainya. Berbagai upacara itu pada hakikatnya
adalah untuk memohon keselamatan dunia dan akhirat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Keselamatan di dunia termasuk kelangsungan hidup dalam rumah tangga dan
perkawinan, bertetangga, menempati rumah, keberhasilan dalam bertani,
pembersihan dari dosa, dan sebagainya. Sedangkan keselamatan akhirat berkaitan
dengan terbebasnya dari kesengsaraan negara untuk dapat masuk surga atau moksa.
Isi mantra yang diucapkan dalam berbagai upacara adat menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Tengger masih kuat dalam melaksanakan ibadah berdasarkan agama Hindu, meskipun pada waktu itu tidak ada pendeta, pedanda resi, ataupun biksu. Upacara-upacara adat dipimpin oleh pada dukun sebagai kepala adat. Meskipun mantra yang diucapkan diawali dengan kata Hong, namun sangat jelas isinya cenderung bersifat agama Hindu. Terlebih-lebih dengan digunakannya Gunung Bromo sebagai arah beribadah, seperti telah diuraikan dalam legenda bahwa Bromo identik dengan pengertian Dewa Brahma yang merupakan manifestasi dari sifat Tuhan sesuai dengan ajaran agama Hindu.
Anggapan bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Nancy atas mantra yang sering digunakan dalam upacara-upacara.
Pada tahun 1973 setelah diadakan pembinaan agama oleh pemerintah, dengan ditetapkannya agama Hindu sebagai dasar pembinaan masyarakat Tengger, maka rakyat Tengger telah terbiasa melaksanakan ibadah agama Hindu Dharma seperti yang dikembangkan di Bali. Sampai saat ini telah dibangun beberapa pura di Kecamatan Tosari dan Kecamatan Sinduro, sedangkan daerah lain masih menggunakan sanggar sebagai tempat beribadah.
Masyarakat Tengger terhadap pemeluk agama lain cukup tinggi. Mereka tetap mampu mempertahankan tradisi lamanya dalam melaksanakan ibadah, meskipun masyarakat sekitarnya telah memeluk agama lain dan mengubah tradisinya. Sikap hidup berdampingan dengan penganut agama lain dapat dikaji dari sesantinya: geblag lor dan geblag kidul, sebagai pernyataan bahwa masyarakat bagian utara Tengger telah memeluk agama islam, sedangkan sebelum tahun 1973 masyarakat Tengger tetap dengan tradisinya. Atas dasar kenyataan ini, maka pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi itu perlu terus dilakukan serta hasilnya dikembangkan sesuai dengan alam modern.
Upacara adat yang bersifat umum dan besar adalah Kasada, Karo dan Unan-unan. Upacara Kasada dan Karo dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada bulan ke-12 dan ke-2 menurut penanggalan Tengger, sedangkan upacara Unan-unan dilaksanakan setiap lima tahun sekali, satu windu tahun wuku.
Isi mantra yang diucapkan dalam berbagai upacara adat menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Tengger masih kuat dalam melaksanakan ibadah berdasarkan agama Hindu, meskipun pada waktu itu tidak ada pendeta, pedanda resi, ataupun biksu. Upacara-upacara adat dipimpin oleh pada dukun sebagai kepala adat. Meskipun mantra yang diucapkan diawali dengan kata Hong, namun sangat jelas isinya cenderung bersifat agama Hindu. Terlebih-lebih dengan digunakannya Gunung Bromo sebagai arah beribadah, seperti telah diuraikan dalam legenda bahwa Bromo identik dengan pengertian Dewa Brahma yang merupakan manifestasi dari sifat Tuhan sesuai dengan ajaran agama Hindu.
Anggapan bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Nancy atas mantra yang sering digunakan dalam upacara-upacara.
Pada tahun 1973 setelah diadakan pembinaan agama oleh pemerintah, dengan ditetapkannya agama Hindu sebagai dasar pembinaan masyarakat Tengger, maka rakyat Tengger telah terbiasa melaksanakan ibadah agama Hindu Dharma seperti yang dikembangkan di Bali. Sampai saat ini telah dibangun beberapa pura di Kecamatan Tosari dan Kecamatan Sinduro, sedangkan daerah lain masih menggunakan sanggar sebagai tempat beribadah.
Masyarakat Tengger terhadap pemeluk agama lain cukup tinggi. Mereka tetap mampu mempertahankan tradisi lamanya dalam melaksanakan ibadah, meskipun masyarakat sekitarnya telah memeluk agama lain dan mengubah tradisinya. Sikap hidup berdampingan dengan penganut agama lain dapat dikaji dari sesantinya: geblag lor dan geblag kidul, sebagai pernyataan bahwa masyarakat bagian utara Tengger telah memeluk agama islam, sedangkan sebelum tahun 1973 masyarakat Tengger tetap dengan tradisinya. Atas dasar kenyataan ini, maka pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi itu perlu terus dilakukan serta hasilnya dikembangkan sesuai dengan alam modern.
Upacara adat yang bersifat umum dan besar adalah Kasada, Karo dan Unan-unan. Upacara Kasada dan Karo dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada bulan ke-12 dan ke-2 menurut penanggalan Tengger, sedangkan upacara Unan-unan dilaksanakan setiap lima tahun sekali, satu windu tahun wuku.
Upacara Kasada dilakukan di kaki Gunung Bromo
di lembah lautan pasir pada bulan ke-12. Setelah berdoa tengah malam, upacara
ini diakhiri dengan menyajikan korban ke kawah Gunung Bromo sebagaimana
dipesankan oleh leluhurnya, Raden Kusumaputra Rara Anteng dan Jaka Seger.
Korban itu berupa buah-buahan dan hasil bumi lainnya demi keselamatan
masyarakat dan anak-cucu masyarakat Tengger. Upacara Kasada, selain untuk
persembahan dan penyajian korban di Gunung Bromo, juga digunakan untuk
penyumpahan dan pelantikan dukun baru. Di samping itu bisa juga diadakan
pelantikan para pejabat pemerintahan atau orang terhormat lainnya yang diangkat
oleh masyarakat Tengger sebagai pinisepuh. Upacara Kasada dianggap sebagai saat
yang tepat untuk memamerkan objek wisata Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru,
karena dapat menarik perhatian orang dari berbagai daerah dan mancanegara untuk
berkunjung menyaksikan upacara adat di Tengger. Dengan demikian, sekaligus dapat
menunjukkan keindahan Bromo dan alam sekitarnya kepada para pengunjung.
3.2
Kesimpulan
Budaya merupakan hasil karya manusia berupa
daya dari budi yang berupa cipta,karsa dan rasa. Sedang kebudayaan itu segala
hasil dari cipta, karsa dan rasa itu. Setiap masyarakat mempunyai kebudayaan
yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dari dari berbagai
keanekaragaman itu memiliki prinsip dan tujuan yang sama yaitu mengakui adanya
ciptaan manusia.
Anggapan
bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama
Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah.Dan menurut masyarakat
tengger, kalau meninggalkan upacara perayaan kasada akan timbul bencana,
Menurut tata cara adat masyarakat Tengger, setiap Hari Raya Kasada, tiap-tiap desa
harus menyiapkan satu ongkek, yang nantinya akan dibawa oleh dukun mereka
ke Pure Luhur Poten. tapi
jika dalam bulan Kasada di satu desa terdapat musibah kematian, maka ongkek
tidak bisa dibuat, karena kematian dianggap sebagai peristiwa yang mengotori
Perayaan Kasada.
DAFTAR
PUSTAKA
Notowidagdo,Drs.H
Rahman. 2000. Ilmu Budaya
Dasar, Jakarta PT Raja Grafindo Persada
Soekanto,Soerjono.
2004. Sosiologi Suatu Pengantar,
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.