Kamis, 21 November 2013



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar  Belakang
                  Kebudayaan erat hubunganya dengan masyarakat segala sesuatu yang terdapat didalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri meskipun bentuk dan caranya berbeda antara daerah  satu dengan yang lainnya. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan.
                    Budaya memiliki defisi yang berbeda-beda akan tetapi  semuanya memiliki prinsip yang sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia sebenarnya segala kesesuaian yang diciptakan oleh manusia  dimuka bumi ini adalah budaya.
                      Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku dan budaya. Dari keanekaragaman budaya nusantara yang ada. Kebudayaan selalu menarik untuk dibahasdan dipelajari, diantara salah satu daerah yang memiliki berbagai macam kebudayaan adalah kota Probolinggo.
                      Dalam makalah ini tradisi kebudayaan Probolinggo yang akan diangkat  yaitu, perayaan Hari Raya Kasada  yang di dalamnya banyak mengandung nilai-nilai religius dan sejarah.  Di Probolinggo juga masih dapat ditemui satu suku dengan sosial budaya khas, yaitu masyarakat Tngger yang hidup di kawasan Pegunungan Tengger . Sistem sosial dan religi masyarakat

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana  sejarah tradisi perayaan Hari Raya Kasada ?
2.      Bagaimana terdisi kebudayaan perayaan Hari Raya Kasada?
1.3  Tujuan Penulisan
1.  Mengetahui sejarah tradisi Kasada
2. Mengetahui kebudayaan tradisi perayaan kasada





BAB II

            Kota Probolinggo mempunyai tradisi yaitu Upacara Kasada.Upacara ini diadakan pada saat purnama bulan Kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya Kasada, diadakan berbagai tontonan seperti; tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai, pameran. Sekitar pukul 05.00 pendeta dari masing-masing desa, serta masyarakat Tengger mendaki Gn.Bromo untuk melempar Kurban (Sesaji) ke Kawah Gn.Bromo. Setelah pendeta melempar Ongkeknya (tempat sesaji) baru diikuti oleh masyarakat lainnya.
Disamping pemandangan alam yang indah Gn.Bromo juga memiliki daya tarik yang luar biasa karena tradisi masyarakat tengger yang tetap berpegang teguh pada adat istiadat dan budaya yang menjadi pedoman hidupnya. Upacara Kasada terkenal hingga manca negara dan selalu ramai di hadiri turis luar negeri maupun lokal.
               Suku Tengger berjumlah sekitar 40 ribu (1985) tinggal di lereng G.Semeru dan di sekitar kaldera Tengger. Mereka sangat dihormati karena mereka hidup jujur, tidak iri hati, dan tidak suka bertengkar. Masyarakat Tengger adalah keturunan Roro Anteng (putri raja Majapahit) dan Joko Seger (putera seorang brahmana).More…Mereka sangat menjunjung tinggi persamaan, demokrasi, dan kehidupan bermasyarakat. Bahasa daerah yang digunakan Masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Jawa Tengger, yakni bahasa Jawa Kuno. Mereka tidak menggunakan tingkatan bahasa, berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai pada umumnya memiliki beberapa tingkatan.

2.1. Seni Dan Tradisi kebudayaan masyarakat Tengger
                  Tengger dikenal sebagai tanah hila-hila (suci) sejak jaman Majapahit, para penghuninya dianggap sebagai abdi dibidang keagamaan dari Sang Hyang Widi Wasa. Hingga kini Masyarakat masih mewarisi tradisi Hindu sejak jaman kejayaan Majapahit. Agama Hindu di Bali dan di Tengger pada dasarnya sama yaitu Hindu Dharma, tetapi Masyarakat Tengger tidak mengenal kasta, dan masih menganut tradisi yang pernah berkembang pada jaman Majapahit.
                    Tidak seperti halnya masyarakat Hindu di Bali, Masyarakat Tengger tidak memiliki Istana, pustaka, maupun kekayaan seni-budaya tradisional, meski memiliki beberapa obyek penting semacam lonceng perunggu dan sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang telah menjadi puing. Namun demikian mereka kaya akan kepercayaan dan upacara adat, diantaranya ialah:
                     Orang Tengger kaya akan upacara adat tetapi hampir tidak memiliki produk kesenian. Upacara adat yang sampai saat ini masih diselenggarakan di wilayah Tengger adalah sebagai berikut.
Perayaan Kasada atau hari raya Kasada atau Kasodoan yang sekarang disebut Yadnya Kasada, adalah hari raya kurban orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14, 15, atau 16, bulan Kasada, yakni pada saat bulan purnama sedang menampakkan wajahnya di lazuardi biru. Hari raya kurban ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra bungsu Rara Anteng dan Jaka Seger, yang telah merelakan dirinya menjadi kurban demi kesejahteraan ayah, ibu, serta para saudaranya. Kasodoan merupakan sarana komunikasi antara orang Tengger dengan Hyang Widi Wasa dan roh-roh halus yang menjaga Tengger. Komunikasi itu dilakukan melalui dukun Tengger, pewaris aktif tradisi Tengger.Kepergian dukun Tengger ke Bromo bukan hanya untuk berdoa, melainkan juga untuk minta berkah kepada yang menjaga Gunung Bromo. Permintaan itu ditujukan kepada Sang Dewa Kusuma yang dikurbankan (dilabuh) di Kawah Bromo. Selain meminta sesuatu, dukun Tengger juga memberi sesuatu, yaitu melaksanakan amanat Raden Kusuma yang diucapkan pada masa lalu yang berbunyi sebagaiberikut:
“Dulurku sing isih urip ana ngalam donya, ngalam padang, mbesuk aku saben wulan Kasada kirimana barang samubarang sing ana rupa tuwuh, rupa sandhang pangan, saanane sandhang pangan sing rika pangan ana ngalam donya, weruh rasane, apa sing rika suwun mesti keturutan kekarepane rika, ya keturutan panjaluke rika ya mesti kinabulna.” (“Saudara-saudaraku yang masih hidup di dunia, di alam terang, kelak setiap bulan Kasada, kirimkan kepadaku hasil pertanianmu, dan makanan yang kalian  makan di dunia, agar aku dapat merasakannya. Keinginanmu dan permintaanmu pasti kukabulkan”).

2.2.Sejarah Tradisi Perayaan Kasada
              Dikisahkan, konon ada sepasang suami-isteri bernama Jaka Seger dan Raya Anteng, yang disatukan dari identitas dan status sosial yang berbeda. Jaka Seger adalah seorang pemuda dari Tengger, sedangkan Rara Anteng adalah salah satu kerabat dari Keraton Majapahit.
                Setelah beberapa tahun usia perkawinan, keduanya tidak kunjung dikaruniai keturunan. Keduanya lalu bersemadi dan memohon agar segera diberikan keturunan, disertai ikrar kepada roh penjaga Gunung Bromo bila doanya terkabul akan melakukan pengorbanan. Permohonan tersebut ternyata dikabulkan, bahkan mereka dikaruniai keturunan berjumlah dua puluh lima orang. Untuk memenuhi janjinya, sepasang suami-istri itupun menyerahkan anam bungsunya bernama Dewa Kusuma untuk dikorbankan kepada roh Gunung Bromo.
                 Sepenggal kisah inilah yang menjadi asal-usul ritual Kasada, dan diperingati setiap tahun oleh komunitas Tengger (yang berarti pula anak cucu Rara Anteng dan Jaka Seger). Tidak lain tidak bukan, ritual ini diperuntukkan untuk mengenang pengorbanan yang dilakukan oleh Dewa Kusuma. Cerita mengenai Rara Anteng dan Jaka Seger dalam ritual Kasada biasanya disampaikan menjelang puncak perayaan Kasada, berupa larung sesaji secara massal di kawah Gunung Bromo.
                  Dari kisah Rara Anteng dan Jaka Seger inilah keseluruhan makna identitas Tengger selama ini dikonstruksikan. Hefner misalnya, dengan merujuk sumber-sumber dan catatan kolonial, menyatakan bahwa sebagian orang Tengger adalah orang-orang Majapahit yang mencari perlindungan dari serangan kerajaan Islam Demak. Perjumpaan dua “saudara” ini lalu dimaknai sebagai simbol pertemuan dua identitas yang mengharapkan kesuburan, kemakmuran, dan keberlangsungan rantai generasi mereka.
                    Di kalangan dukun-dukun Tengger sendiri, makna Kasada memiliki versinya sendiri, walau secara “resmi” tidak menolak kisah Rara Anteng dan Jaka Seger. Menurut Mujono (Dukun Ngadas {lor}, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo), ritual Kasada menyiratkan banyak makna di antaranya untuk mengingat pengorbanan leluhur, dan persembahan terhadap Yang Maha Kuasa guna memperoleh berkah kesuburan dan perlindungan.
                    Namun demikian selain cerita legenda yang sebenarnya banyak memuat versi tersebut, ritual Kasada secara sosiologis sebenarnya juga menjadi momen perjumpaan. Sebab, melalui ritual Kasada seluruh warga Tengger dari empat Kabupaten yang mengiris wilayah dataran tinggi Tengger berkumpul bersama. Tepat tanggal 15 saat bulan purnama, warga Tengger dari Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang menyatu dan melakukan puja bakti di Poten yang terletak di pinggir kawah Bromo.
                    Rangkaian upacara yang rumit dan dilakukan secara massal inilah yang sebenarnya membuat daya tarik Kasada amat besar. Paduan antara keelokan Bromo dan keagungan tradisi wong Tengger memendarkan keagungan yang mengundang rasa takjub semua orang.
                    Karena itu rasanya tidak mengherankan, bila ritual Kasada juga dimaknai oleh berbagai pihak dengan cara yang berbeda-beda. Proses modernisasi dan realitas ekonomi dan politik mutakhir telah ikut meletakkan ritual Kasada dalam ruang baru dengan aneka makna dan tafsir bagi para “penikmatnya”. Nasib tak dapat ditolak, dalam ruang yang baru ini Kasada kini menjadi arena pertarungan berbagai kepentingan, dan perebutan berbagai makna yang mengiringi kehidupan komunitas Tengger.
                      Pengorbanan Dewa Kusuma sebagai representasi leluhur Tengger juga menandai proses pemujaan terhadap arwah setiap leluhur Tengger yang telah meninggal. Biasanya pemujaan ini dihelat melalui ritual entas-entas, atau mengentaskan arwah leluhur yang telah meninggal agar memperoleh alam surgawi. Sementara Kasada lebih menekankan pada pengentasan arwah leluhur mereka, yang diritualkan secara massal.
2.3. Makna kasada
          Bagi warga Tengger Upacara Kasada atau Hari Raya Kasada atau Kasodoan adalah Upacara yang dilakukan oleh Masyarakat Tengger untuk memperingati Pengorbanan diri Raden Kusuma ( Hadi Kusuma ) putra ke 25 pasangan Joko Seger dan Loro Anteng, yang telah merelakan dirinya untuk berkorban demi Kesejahteraan Ayah , Ibunya serta saudara – saudaranya.
           Dalam kepercayaan Hindu sekte Tengger, Gunung Bromo adalah alat pemersatu dan berkah hidup yang senantiasa memberi perlindungan dan kesejahteraan masyarakat Suku Tengger. Suburnya tanah pertanian dan harmonisnya kehidupan di sini, paling tidak telah menjadi bukti yang dipercaya mereka sebagai berkah dari roh para leluhur yang bersemayam di kawah Gunung Bromo.Kuatnya keyakinan itulah yang membuat kawasan Gunung Bromo, pada hari-hari biasa tetap saja ramai dikunjungi warga masyarakat baik yang datang dari Suku Tengger sendiri maupun masyarakat luar. Mereka, umumnya datang karena suatu hajat tertentu atau sekedar menunaikan nadzar pribadi dengan mempersembahkan sesaji, berupa hasil pertanian seperti kubis, wortel, sawi, kentang,dan binatang peliharaan seperti ayam, untuk dilemparkan ke kawah Gunung Bromo.
              Menurut tata cara adat Suku Tengger, sebelum sesaji tersebut dibuang dan diperebutkan di kawah Bromo, sesaji harus diberi mantera di Pure Luhur Poten sesuai hajat orang bersangkutan. Baru kemudian sesaji yang berupa hasil bumi dan peternakan dipersembahkan,dengan harapan, semua keinginannya dapat dikabulkan oleh yang mbaurekso atau penguasa kawah Gunung Bromo.
              Tradisi seperti ini sudah dilakukan masyarakat Tengger secara turun-turun, sejak ratusan tahun lalu, baik tradisi upacara persembahan sesaji secara pribadi maupun upacara akbar yang lebih kita kenal dengan nama Perayaan Yadnya Kasada. Sebuah ritual agama Hindu yang dilaksanakan pada setiap bulan 12 menurut Tarikh Caka, penanggalan khusus warga Tengger.
              Hari Raya Kasada ini dilakukan sebagai ungkapan syukur Suku Tengger terhadap sang pencipta, Yang Widi Wasa, atas berkah dan rezeki yang diberikan. Juga penghormatan kepada nenek moyang mereka, yakni Joko Seger dan Roro Anteng, yang rela mengorbankan putra bungsunya demi kedamaian hidup anak keturunannya yang mendiami kawasan Gunung Bromo.
             Dalam semedinya mereka mendengar suara gaib yang memberitahukan bahwa mereka akan diberi keturunan sebanyak 25 anak, dengan syarat, harus rela menyerahkan anak bungsunya yakni Dewa Kusuma untuk dikorbankan pada bulan Kasada, bulan purnama 14 tepat putih wetan atau subuh. Namun setelah hari yang dijanjikan, Dewa Kusuma yang sudah berusia 10 tahun, tidak juga dikorbankan oleh kedua orang tuanya, Joko Seger dan Roro Anteng. Mereka tidak memenuhi janjinya. Rasa takut kehilangan anak, membuat mereka membawa ke 25 anaknya diungsikan ke Gunung Pananjakan.
              Sebagai wujud teguran dewata terhadap kelalaian Joko Seger, Gunung Bromo diletuskan dan jilatan apinya menyambar dan membawa pergi Dewa Kusuma ke dalam kawah Gunung Bromo. Melalui suara gaibnya, Dewa Kusuma berpesan kepada seluruh saudaranya di sekitar Poten agar mereka hidup rukun dan meminta warga Tengger menyerahkan sebagian hasil buminya kepadanya.

                Sejak saat itulah bulan Kasada, bulan ke 12 menurut penanggalan versi Tengger dijadikan sebagai hari raya keagamaan Hindu Tengger, Yadnya Kasada, hari kurban yang sakral. Meskipun Yadnya Kasada, bukan termasuk hari raya terbesar dalam tradisi Hindu Tengger, namun mempunyai makna khusus dalam hidup mereka. Terutama ajarannya tentang sikap rela berkorban dan menjaga keseimbangan hidup antar sesama manusia dan juga dengan alam sekitarnya dipegang teguh secara turun-menurun oleh Suku Tengger.
           Karena itu, tiap-tiap kerusakan yang timbul baik di masyarakat maupun alam sekitar oleh orang Tengger harus dipandang sebagai pengingkaran terhadap ajaran tadi. Bahkan gejala alam, seperti meletusnya Gunung Bromo yang memuntahkan debu vulkanik beberapa waktu lalu, ditafsirkan oleh sebagian orang Hindu Tengger, sebagai pertanda kurdho atau murkanya penguasa Bromo pada tahap paling dini. Sebab bagi mereka peningkatan aktivitas Bromo tidak semata peristiwa alam biasa, namun juga mengandung pesan peringatan. Mungkin akibat kelalaian prilaku atau karena berkurangnya sesaji yang dipersembahkan oleh warga masyarakat Tengger ke kawah Gunung Bromo.

            Menurut tata cara adat masyarakat Tengger, setiap Hari Raya Kasada, tiap-tiap desa harus menyiapkan satu ongkek, yang nantinya akan dibawa oleh dukun mereka ke Pure Luhur Poten. tapi jika dalam bulan Kasada di satu desa terdapat musibah kematian, maka ongkek tidak bisa dibuat, karena kematian dianggap sebagai peristiwa yang mengotori Perayaan Kasada.
Setelah semua persiapan rampung, tepat tengah malam, umat Hindu Tengger mulai bergerak dari Pendopo agung. Mereka berjalan kaki secara beriringan menuju ke Pure Luhur Poten yang jaraknya sekitar 8 kilometer, mendaki kaki Gunung Bromo yang berpasir. Ribuan warga Tengger ini, pria, wanita,tua, muda bahkan bocah kecil, berjalan sambil membawa berbagai hasil bumi yang mereka tanam di ladang masing-masing untuk kemudian dipersembahkan ke sang leluhur, Dewa Kusuma yang bersemayam di kawah Gunung Bromo. Sebelum sampai di kawah, sesaji tersebut singgah dulu di Pure Luhur Poten untuk diberi mantera keselamatan oleh para dukun. Kemudian dengan diterangi oncor dan obor, dan diiringi gamelan Kepyak, yang bergemerincing, dan tetabuhan Ketipung, para dukun dan warga Tengger mendaki kawah dengan khidmat, kemudian secara bergantian melemparkan sesaji ke kawah Gunung Bromo.
               Namun apapun upacara Yadnya Kasada yang rutin diselenggarakan masyarakat Tengger ini adalah cermin mereka dalam menjaga keharmonisan hidup sehari-hari dengan alam, terutama dengan sang pencipta, yang utuh mengatur alam dan manusianya. Harmoni kehidupan masyarakat Suku Tengger di pegunungan dan kawasan perbukitan Gunung Bromo ini, setidaknya secara kasat mata masih berlangsung. Namun ini bukan berarti tanpa ancaman.
Secara budaya, peradaban masyarakat Tengger ini, telah lama terkepung oleh beragam budaya lain di luar Tengger. Terbilang sulit untuk tidak bersentuhan sama sekali dengan perkembangan budaya global, yang cenderung tidak berbatas. Kekhawatiran tradisi-tradisi ritual yang berkaitan dengan alam dan kehidupan sosial orang Tenggerakan hilang, sudah lama muncul. Secara geografis saja, desa-desa yang dulu dikenal sebagai Desa Tengger, kini tidak lagi bisa dikatakan sebagai desa orang Tengger. Sejumlah pendatang telah telah mendiami desa-desa ini. Padahal, berdasarkan kriteria yang selama ini banyak dipakai untuk menggambarkan masyarakat Tengger, adalah mereka yang beragama Hindu dan masih memegang teguh adat istiadat Tengger.
                Terbukanya kawasan Tengger sebagai obyek pariwisata, banyak disebut-sebut menjadi ancaman nyata buat masyarakat Tengger, bila ingin mempertahankan peradagannya. Orang kota, atau Orang Ngare, dalam sebutan masyarakat setempat, atau orang yang hidup di dataran rendah, menurut kepercayaan orang Tengger dianggap telah tercemar virus kapitalisme, yang banyak menawarkan berbagai kesenangan.Pola hidup masyarakat agraris, masih dipegang oleh sebagian masyarakat Tengger. Mereka masih mengolah lahan pertaniannya dengan menanam berbagai jenis tanaman sayuran.

             Namun, terbukanya kawasan Tengger ini sebagai obyek pariwisata, akhirnya menawarkan pilihan lain buat masyarakat Tengger. Tidak sedikit yang mengalihkan usahanya dengan menyewakan kendaraan roda empatnya. Ataupun menyewakan kuda ternak mereka kepada para pelancong. Atau merubah rumah kediamannya menjadi homestay,dengan omset yang cukup besar.
BAB III
ANALISA DAN KESIMPULAN

3.1. Analisis
Masyarakat Tengger masih menganut kepercayaart yang bersifat tradisional dengan melakukan berbagai upacara, antara lain Kusada, Karo, Entas-entas, Unan-unan, perkawinan, kematian, pendirian rumah, dan sebagainya. Berbagai upacara itu pada hakikatnya adalah untuk memohon keselamatan dunia dan akhirat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keselamatan di dunia termasuk kelangsungan hidup dalam rumah tangga dan perkawinan, bertetangga, menempati rumah, keberhasilan dalam bertani, pembersihan dari dosa, dan sebagainya. Sedangkan keselamatan akhirat berkaitan dengan terbebasnya dari kesengsaraan negara untuk dapat masuk surga atau moksa.
Isi mantra yang diucapkan dalam berbagai upacara adat menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Tengger masih kuat dalam melaksanakan ibadah berdasarkan agama Hindu, meskipun pada waktu itu tidak ada pendeta, pedanda resi, ataupun biksu. Upacara-upacara adat dipimpin oleh pada dukun sebagai kepala adat. Meskipun mantra yang diucapkan diawali dengan kata Hong, namun sangat jelas isinya cenderung bersifat agama Hindu. Terlebih-lebih dengan digunakannya Gunung Bromo sebagai arah beribadah, seperti telah diuraikan dalam legenda bahwa Bromo identik dengan pengertian Dewa Brahma yang merupakan manifestasi dari sifat Tuhan sesuai dengan ajaran agama Hindu.
Anggapan bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Nancy atas mantra yang sering digunakan dalam upacara-upacara.
Pada tahun 1973 setelah diadakan pembinaan agama oleh pemerintah, dengan ditetapkannya agama Hindu sebagai dasar pembinaan masyarakat Tengger, maka rakyat Tengger telah terbiasa melaksanakan ibadah agama Hindu Dharma seperti yang dikembangkan di Bali. Sampai saat ini telah dibangun beberapa pura di Kecamatan Tosari dan Kecamatan Sinduro, sedangkan daerah lain masih menggunakan sanggar sebagai tempat beribadah.
Masyarakat Tengger terhadap pemeluk agama lain cukup tinggi. Mereka tetap mampu mempertahankan tradisi lamanya dalam melaksanakan ibadah, meskipun masyarakat sekitarnya telah memeluk agama lain dan mengubah tradisinya. Sikap hidup berdampingan dengan penganut agama lain dapat dikaji dari sesantinya: geblag lor dan geblag kidul, sebagai pernyataan bahwa masyarakat bagian utara Tengger telah memeluk agama islam, sedangkan sebelum tahun 1973 masyarakat Tengger tetap dengan tradisinya. Atas dasar kenyataan ini, maka pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi itu perlu terus dilakukan serta hasilnya dikembangkan sesuai dengan alam modern.
Upacara adat yang bersifat umum dan besar adalah Kasada, Karo dan Unan-unan. Upacara Kasada dan Karo dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada bulan ke-12 dan ke-2 menurut penanggalan Tengger, sedangkan upacara Unan-unan dilaksanakan setiap lima tahun sekali, satu windu tahun wuku.
Upacara Kasada dilakukan di kaki Gunung Bromo di lembah lautan pasir pada bulan ke-12. Setelah berdoa tengah malam, upacara ini diakhiri dengan menyajikan korban ke kawah Gunung Bromo sebagaimana dipesankan oleh leluhurnya, Raden Kusumaputra Rara Anteng dan Jaka Seger. Korban itu berupa buah-buahan dan hasil bumi lainnya demi keselamatan masyarakat dan anak-cucu masyarakat Tengger.  Upacara Kasada, selain untuk persembahan dan penyajian korban di Gunung Bromo, juga digunakan untuk penyumpahan dan pelantikan dukun baru. Di samping itu bisa juga diadakan pelantikan para pejabat pemerintahan atau orang terhormat lainnya yang diangkat oleh masyarakat Tengger sebagai pinisepuh. Upacara Kasada dianggap sebagai saat yang tepat untuk memamerkan objek wisata Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, karena dapat menarik perhatian orang dari berbagai daerah dan mancanegara untuk berkunjung menyaksikan upacara adat di Tengger. Dengan demikian, sekaligus dapat menunjukkan keindahan Bromo dan alam sekitarnya kepada para pengunjung.
3.2 Kesimpulan
Budaya merupakan hasil karya manusia berupa daya dari budi yang berupa cipta,karsa dan rasa. Sedang kebudayaan itu segala hasil dari cipta, karsa dan rasa itu. Setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dari dari berbagai keanekaragaman itu memiliki prinsip dan tujuan yang sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia.
Anggapan bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah.Dan menurut masyarakat tengger, kalau meninggalkan upacara perayaan kasada akan timbul bencana, Menurut tata cara adat masyarakat Tengger, setiap Hari Raya Kasada, tiap-tiap desa harus menyiapkan satu ongkek, yang nantinya akan dibawa oleh dukun mereka ke Pure Luhur Poten. tapi jika dalam bulan Kasada di satu desa terdapat musibah kematian, maka ongkek tidak bisa dibuat, karena kematian dianggap sebagai peristiwa yang mengotori Perayaan Kasada.

DAFTAR PUSTAKA
Notowidagdo,Drs.H Rahman. 2000.  Ilmu Budaya Dasar, Jakarta PT Raja Grafindo Persada
Soekanto,Soerjono. 2004. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.


Lirik Lagu Tari Rudat

Asslamualaikum
Tabeq tuan, tabeq tuan
Sekalian mohon hamba dimaafkan

Kami datang dari seberang
Harap tuan, harap tuan yang budiman
Terima salam perkenalan

Dalam seni, satunya hati
Dalam jiwa, dalam jiwa
Indung sayang se-iya se-kata

Kalau ada nasib dibadan
Kapan-kapan, kapan-kapan
jiwa manis kitakita bisa jumpa lagi
Kita bisa jumpa lagi

Mahmud sungkar awal basar
Baris tambur jawi salam
Mansyur lana ya uyud salman
Muhammad rasul jawi salam

Yaa Habibi Yaa Muhammad
Yaa aru salko bilkoini
Yaa muayyat yaa mumajat
Yaa ima malkiblata ini

Mar'ainal issyuhada
Yaa nabi salam alaika
Bissuro ila ila ika
Yaa rasul salam alaika

Sejarah Internet

Internet (kependekan dari interconnection-networking) ialah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP/IP). Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking. Jaringan komputer ini berfungsi agar pengguna komputer bisa bertukar informasi dan data dengan pengguna komputer lainnya.

              Tahun 1957 awal dari internet melalui Advanced Research Projects Agency (ARPA), Amerika Serikat mengembangkan jaringan komunikasi terintegrasi yang saling menghubungkan komunitas sains dan keperluan militer. Hal ini dilatarbelakangi oleh terjadinya perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet (tahun 1957 Soviet meluncurkan sputnik). jaringan komputer dimanfaatkan oleh angkatan bersenjata Amerika untuk mengembangkan senjata nuklir. Amerika khawatir jika negaranya diserang maka komunikasi menjadi lumpuh. Untuk itulah mereka mencoba komunikasi dan menukar informasi melalui jaringan komputer.


                 Penemuan ARPA pada packet switching pada tahun 1960 menjadi awal landasan terbentuknya internet. Packet switching adalah pengiriman pesan yang dapat dipecah dalam paket-paket kecil yang masing-masing paketnya dapat melalui berbagai alternatif jalur jika salahsatu jalur rusak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Packet switching juga memungkinkan jaringan dapat digunakan secara bersamaan untuk melakukan banyak koneksi, berbeda dengan jalur telepon yang memerlukan jalur khusus untuk melakukan koneksi. Maka ketika ARPANET menjadi jaringan komputer nasional di Amerika Serikat pada 1969, packet switching digunakan secara menyeluruh sebagai metode komunikasinya menggantikan circuit switching yang digunakan pada sambungan telepon publik.
pada tahun 1969 ketika itu Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency(DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset tentang bagaimana cara menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik.
Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET. Pada 1970, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan.


                 ARPANET kemudian merancang sebuah jaringan dengan kehandalan teknologi informasi yang dapat memindahkan data dalam jumlah besar dan dalam waktu yang singkat, dan ditetapkan sebagai sebuah standar pembangunan protokol baru yang saat ini dikenal TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol) dan disinilah awal dari segala sejarah internet yang dikenal luas sampai saat ini. Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.


                  Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu di tahun 1969, dan secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negara tersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya. Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu "MILNET" untuk keperluan militer dan "ARPANET" baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.


                  Tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program e-mail yang ia ciptakan setahun yang lalu untuk ARPANET. Program e-mail ini begitu mudah sehingga langsung menjadi populer. Pada tahun yang sama, icon @ juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukkan “at” atau “pada”. Tahun 1973, jaringan komputer ARPANET mulai dikembangkan ke luar Amerika Serikat.Komputer University College di London merupakan komputer pertama yang ada di luar Amerika yang menjadi anggota jaringan Arpanet. Pada tahun yang sama, dua orang ahli komputer yakni Vinton Cerf dan Bob Kahn mempresentasikan sebuah gagasan yang lebih besar, yang menjadi cikal bakal pemikiran internet. Ide ini dipresentasikan untuk pertama kalinya di Universitas Sussex. pengembangan lapisan protokol jaringan yang terkenal karena paling banyak digunakan sekarang yaitu TCP/IP (Transmission Control Protocol/ Internet Protocol). Protokol adalah suatu kumpulan aturan untuk berhubungan antarjaringan. Protokol ini dikembangkan oleh Robert Kahn dan Vinton Cerf pada tahun 1974. Dengan protokol yang standar dan disepakati secara luas, maka jaringan lokal yang tersebar di berbagai tempat dapat saling terhubung membentuk jaringan raksasa bahkan sekarang ini menjangkau seluruh dunia. Jaringan dengan menggunakan protokol internet inilah yang sering disebut sebagai jaringan internet.


                  Hari bersejarah berikutnya adalah tanggal 26 Maret 1976, ketika Ratu Inggris berhasil mengirimkan e-mail dari Royal Signals and Radar Establishment di Malvern. Setahun kemudian, sudah lebih dari 100 komputer yang bergabung di ARPANET membentuk sebuah jaringan atau network. Pada 1979, Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin, menciptakan newsgroups pertama yang diberi nama USENET. Tahun 1981 France Telecom menciptakan gebrakan dengan meluncurkan telpon televisi pertama, dimana orang bisa saling menelpon sambil berhubungan dengan video link. Karena komputer yang membentuk jaringan semakin hari semakin banyak, maka dibutuhkan sebuah protokol resmi yang diakui oleh semua jaringan. Pada tahun 1982 dibentuk Transmission Control Protocol atau TCP dan Internet Protokol atau IP yang kita kenal semua. Sementara itu di Eropa muncul jaringan komputer tandingan yang dikenal dengan Eunet, yang menyediakan jasa jaringan komputer di negara-negara Belanda, Inggris, Denmark dan Swedia. Jaringan Eunet menyediakan jasa e-mail dan newsgroup USENET. Untuk menyeragamkan alamat di jaringan komputer yang ada, maka pada tahun 1984 diperkenalkan sistem nama domain, yang kini kita kenal dengan DNS atau Domain Name System. Komputer yang tersambung dengan jaringan yang ada sudah melebihi 1000 komputer lebih. Pada 1987 jumlah komputer yang tersambung ke jaringan melonjak 10 kali lipat manjadi 10.000 lebih. Jaringan ARPANET menjadi semakin besar sejak saat itu dan mulai dikelola oleh pihak swasta pada tahun 1984, maka semakin banyak universitas tergabung dan mulailah perusahaan komersial masuk. Protokol TCP/IP menjadi protokol umum yang disepakati sehingga dapat saling berkomunikasi pada jaringan internet ini.


                      Tahun 1988, Jarko Oikarinen dari Finland menemukan dan sekaligus memperkenalkan IRC atau Internet Relay Chat. Setahun kemudian, jumlah komputer yang saling berhubungan kembali melonjak 10 kali lipat dalam setahun. Tak kurang dari 100.000 komputer kini membentuk sebuah jaringan. Tahun 1990 adalah tahun yang paling bersejarah, ketika Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer yang lainnya, yang membentuk jaringan itu. Program inilah yang disebut www, atau Worl Wide Web.


                  Tahun 1992, komputer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui sejuta komputer, dan di tahun yang sama muncul istilah surfing the internet. Tahun 1994, situs internet telah tumbuh menjadi 3000 alamat halaman, dan untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di internet. Dunia langsung berubah. Di tahun yang sama Yahoo! didirikan, yang juga sekaligus kelahiran Netscape Navigator 1.0.


                  Perkembangan besar Internet ketiga adalah terbangunnya aplikasi World Wide Web pada tahun 1990 oleh Tim Berners-Lee. Aplikasi World Wide Web (WWW) ini menjadi konten yang dinanti semua pengguna internet. WWW membuat semua pengguna dapat saling berbagi bermacam-macam aplikasi dan konten, serta saling mengaitkan materi-materi yang tersebar di internet. Sejak saat itu pertumbuhan pengguna internet meroket.



                 Tahun 1989, Timothy Berners-Lee, ahli komputer dari Inggris menciptakan World Wide Web yaitu semacam program yang memungkinkan suara, gambar, film, musik ditampilkan dalam internet. Karena penemuan inilah internet menjadi lebih menarik tampilannya dan sangatbervariasi.



Perkembangan Internet di Indonesia

                   RMS Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto, dan Onno W. Purbo merupakan beberapa nama-nama legendaris di awal pembangunan Internet Indonesia di tahun 1992 hingga 1994. Masing-masing personal telah mengkontribusikan keahlian dan dedikasinya dalam membangun cuplikan-cuplikan sejarah jaringan komputer di Indonesia.


                Tulisan-tulisan tentang keberadaan jaringan Internet di Indonesia dapat dilihat di beberapa artikel di media cetak seperti KOMPAS berjudul “Jaringan komputer biaya murah menggunakan radio” di akhir tahun 1990 dan awal tahun 1991. Juga beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahasiswa Elektro ITB di tahun 1989.

                Inspirasi tulisan-tulisan awal Internet Indonesia datangnya dari kegiatan di amatir radio khususnya di Amateur Radio Club (ARC) ITB di tahun 1986. Bermodal pesawat Transceiver HF SSB Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama (YC1HCE) dengan komputer Apple II milik Onno W. Purbo (YC1DAV) sekitar belasan anak muda ITB seperti Harya Sudirapratama (YC1HCE), J. Tjandra Pramudito (YB3NR), Suryono Adisoemarta (N5SNN) bersama Onno W. Purbo, berguru pada para senior radio amatir seperti Robby Soebiakto (YB1BG), Achmad Zaini (YB1HR), Yos (YB2SV), di band 40m. Robby Soebiakto merupakan pakar diantara para amatir radio di Indonesia khususnya untuk komunikasi data packet radio yang kemudian didorong ke arah TCP/IP, teknologi packet radio TCP/IP yang kemudian diadopsi oleh rekan-rekan BPPT, LAPAN, UI, dan ITB yang kemudian menjadi tumpuan PaguyubanNet di tahun 1992-1994. Robby Soebiakto menjadi koordinator IP pertama dari AMPR-net (Amatir Packet Radio Network) yang di Internet dikenal dengan domain AMPR.ORG dan IP 44.132. Sejak tahun 2000, AMPR-net Indonesia di koordinir oleh Onno W. Purbo (YC0MLC). Koordinasi dan aktivitasnya mengharuskan seseorang untuk menjadi anggota ORARI dan di koordinasi melalui mailing list ORARI, seperti, orari-news@yahoogroups.com.


                 Di tahun 1986-1987 yang merupakan awal perkembangan jaringan paket radio di Indonesia, Robby Soebiakto merupakan pionir di kalangan pelaku radio amatir Indonesia yang mengaitkan jaringan amatir Bulletin Board System (BBS) yang merupakan jaringan e-mail store and forward yang mengkaitkan banyak “server” BBS amatir radio seluruh dunia agar e-mail dapat berjalan dengan lancar. Di awal tahun 1990, komunikasi antara Onno W. Purbo yang waktu itu berada di Kanada dengan panggilan YC1DAV/VE3 dengan rekan-rekan radio amatir di Indonesia dilakukan melalui jaringan amatir radio ini. Dengan peralatan PC/XT dan walkie talkie 2 meteran, komunikasi antara Indonesia-Kanada terus dilakukan dengan lancar melalui jaringan radio amatir. Robby Soebiakto berhasil membangun gateway amatir satelit di rumahnya di Cinere melalui satelit-satelit OSCAR milik radio amatir kemudian melakukan komunikasi lebih lanjut yang lebih cepat antara Indonesia-Kanada. Pengetahuan secara perlahan ditransfer dan berkembang melalui jaringan radio amatir ini.


                RMS Ibrahim (biasa dipanggil Ibam) merupakan motor dibalik operasional Internet di UI. RMS Ibrahim pernah menjadi operator yang menjalankan gateway ke Internet dari UI yang merupakan bagian dari jaringan universitas di Indonesia UNINET. Protokol UUCP yang lebih sederhana daripada TCP/IP digunakan terutama digunakan untuk mentransfer e-mail & newsgroup. RMS Ibrahim juga merupakan pemegang pertama Country Code Top Level Domain (ccTLD) yang dikemudian hari dikenal sebagai IDNIC.


                 Muhammad Ihsan adalah staff peneliti di LAPAN Ranca Bungur tidak jauh dari Bogor yang di awal tahun 1990-an di dukung oleh pimpinannya Ibu Adrianti dalam kerjasama dengan DLR (NASA-nya Jerman) mencoba mengembangkan jaringan komputer menggunakan teknologi packet radio pada band 70cm & 2m. Jaringan tersebut dikenal sebagai JASIPAKTA dengan dukungan DLR Jerman. Protokol TCP/IP di operasikan di atas protokol AX.25 pada infrastruktur packet radio. Muhammad Ihsan mengoperasikan relay penghubung antara ITB di Bandung dengan gateway Internet yang ada di BPPT di tahun 1993-1998.


                  Firman Siregar merupakan salah seorang motor di BPPT yang mengoperasikan gateway radio paket bekerja pada band 70cm di tahun 1993-1998-an. PC 386 sederhana menjalankan program NOS di atas sistem operasi DOS digunakan sebagai gateway packet radio TCP/IP. IPTEKNET masih berada di tahapan sangat awal perkembangannya saluran komunikasi ke internet masih menggunakan protokol X.25 melalui jaringan Sistem Komunikasi Data Paket (SKDP) terkait pada gateway di DLR Jerman.


                      Putu sebuah nama yang melekat dengan perkembangan PUSDATA DEPRIN waktu masa kepemimpinan Bapak Menteri Tungki Ariwibowo menjalankan BBS pusdata.dprin.go.id. Di masa awal perkembangannya BBS Pak Putu sangat berjasa dalam membangun pengguna e-mail khususnya di jakarta Pak Putu sangat beruntung mempunyai menteri Pak Tungki yang “maniak” IT dan yang mengesankan dari Pak Tungki beliau akan menjawab e-mail sendiri. Barangkali Pak Tungki adalah menteri pertama di Indonesia yang menjawab e-mail sendiri.
Suryono Adisoemarta N5SNN di akhir 1992 kembali ke Indonesia, kesempatan tersebut tidak dilewatkan oleh anggota Amateur Radio Club (ARC) ITB seperti Basuki Suhardiman, Aulia K. Arief, Arman Hazairin di dukung oleh Adi Indrayanto untuk mencoba mengembangkan gateway radio paket di ITB. Berawal semangat & bermodalkan PC 286 bekas barangkali ITB merupakan lembaga yang paling miskin yang nekad untuk berkiprah di jaringan PaguyubanNet. Rekan lainnya seperti UI, BPPT, LAPAN, PUSDATA DEPRIN merupakan lembaga yang lebih dahulu terkait ke jaringan di tahun 1990-an mereka mempunyai fasilitas yang jauh lebih baik daripada ITB. Di ITB modem radio paket berupa Terminal Node Controller (TNC) merupakan peralatan pinjaman dari Muhammad Ihsan dari LAPAN.


              Berawal dari teknologi radio paket 1200bps, ITB kemudian berkembang di tahun 1995-an memperoleh sambungan leased line 14.4Kbps ke RISTI Telkom sebagai bagian dari IPTEKNET akses Internet tetap diberikan secara cuma-cuma kepada rekan-rekan yang lain. September 1996 merupakan tahun peralihan bagi ITB, karena keterkaitan ITB dengan jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3) sehingga memperoleh bandwidth 1.5Mbps ke Jepang yang terus ditambah dengan sambungan ke TelkomNet & IIX sebesar 2Mbps. ITB akhirnya menjadi salah satu bagian terpenting.


KESIMPULAN

            Jaringan komputer adalah beberapa komputer terhubung satu sama lain dengan memakai kabel dalam satu lokasi, Jaringan komputer ini berfungsi agar pengguna komputer bisa bertukar informasi dan data dengan pengguna komputer lainnya. Hal itu mendasari terbentuknya internet. Internet dulu dimanfaatkan oleh angkatan bersenjata Amerika untuk mengembangkan senjata nuklir. Dan Kemudian di kembangkan oleh beberapa universitas amerika Salah satunya adalah Universitas of California at Los Angeles (UCLA). Akhirnya tahun 1970 internet banyak digunakan di unversitas-universitas di Amerika.


Protokol (semacam bahasa) yang sama untuk dipakai di internet. Namanya TCP (Transmission Control Protocol, bahasa Indonesianya Protokol Pengendali Transmisi) dan IP (Internet Protocol). Untuk menyatukan beberapa bahasa yang terhubung dengan pengiriman data.

Komputer memiliki peran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia namun ada dampak negatifnya yang perlu di waspadai hal ini agar penguna lebih cermat dalam menyikapi perkembangan teknologi.
SUMBER

http://id.wikipedia.org/wiki/Internet

http://ilmu27.blogspot.com/2012/08/makalah-sejarah-perkembangan-internet.html